Pijar Foundation dan Kemendikdasmen Dorong Pendidikan Bilingual untuk Anak Tuli
- Hilda Halida
- 14 jam yang lalu
- 3 menit membaca
Program Pendidikan Bilingual untuk Tuli diluncurkan untuk memperkuat model pembelajaran inklusif di Indonesia.

Jakarta, 30 Juni 2026 - Bagi anak tuli, akses pendidikan tidak hanya dimulai dari ketersediaan sekolah, tetapi juga akses terhadap bahasa. Bahasa menjadi pintu utama bagi peserta didik tuli untuk belajar, bertanya, memahami materi, dan berpartisipasi secara setara di ruang kelas.
Berdasarkan kajian Pijar Foundation, 91% orang tua menilai bahasa isyarat penting bagi masa depan anak tuli. Namun, paparan anak tuli terhadap bahasa isyarat sejak dini masih terbatas, termasuk di layanan pendidikan. Menjawab tantangan tersebut, Pijar Foundation, dengan dukungan strategis The Nippon Foundation, meluncurkan Program Pendidikan Bilingual untuk Tuli, yang merujuk pada penggunaan Bahasa Isyarat, baik lisan maupun tulis.
Dalam acara bertajuk “Kolaborasi untuk Pendidikan Inklusif Indonesia: Dari Percontohan ke Dampak Berkelanjutan”, Pijar Foundation menandatangani Nota Kesepahaman dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia untuk mengembangkan katalog praktik baik dan rekomendasi kebijakan terkait pendidikan tuli bilingual. Acara tersebut turut dihadiri oleh Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., selaku Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, beserta jajaran.
Program Pendidikan Bilingual untuk Tuli ini menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi fondasi utama dalam proses belajar. Selain mengembangkan model pembelajaran yang lebih inklusif, program ini juga memperkuat kapasitas guru melalui Akademi Guru Pendidikan Tuli, yang saat ini diikuti oleh 20 guru dengar dan 5 guru Tuli. Inisiatif ini dirancang untuk membekali para guru dengan pengetahuan, keterampilan, dan sensitivitas dalam menciptakan ruang belajar yang lebih aksesibel bagi peserta didik Tuli.
“Bahasa adalah pintu menuju pengetahuan, dan pengetahuan adalah cara kita tumbuh bersama. Karena itu, membangun pendidikan inklusif berarti membangun jembatan agar anak tuli dapat memahami, dipahami, dan berpartisipasi secara utuh dalam proses belajar. Peran Guru disini adalah fondasi dalam sistem pembelajaran.” ujar Cazadira Fediva Tamzil, Direktur Eksekutif Pijar Foundation. “Program Pendidikan Bilingual untuk Tuli akan dimulai dengan Akademi Guru untuk Pendidikan Tuli yang akan membekali guru dengan keterampilan untuk menghadirkan pendidikan bilingual dalam praktik pembelajaran sehari-hari.” Tambahnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Adhi Kusumo Bharoto, pakar linguistik isyarat di Indonesia yang juga seorang tuli. “Bahasa isyarat harus menjadi bahasa pertama bagi anak-anak tuli, sebagai identitas mereka. Nota kesepahaman ini adalah bentuk komitmen yang betul-betul ramah untuk anak tuli agar bisa mencapai masa depan mereka.”
Sejalan dengan hal tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan pentingnya penguatan pendidikan bilingual sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan belajar yang lebih inklusif bagi peserta didik tuli.
“Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan guru untuk pendidikan khusus. Ini salah satu momentum kami untuk memperkuat komitmen kita semua untuk bisa membangun ekosistem pendidikan yang inklusif. Peluncuran program ini memperkuat dukungan kelompok masyarakat untuk mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua,” ujar Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, dalam sambutannya.
The Nippon Foundation mendukung implementasi inisiatif ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan inklusif di Indonesia. Dukungan tersebut diarahkan agar program ini tidak berhenti sebagai percontohan, tetapi dapat menjadi pembelajaran bersama bagi penguatan kapasitas pendidik dan praktik kelembagaan.
“Ketika anak tuli mendapatkan akses terhadap bahasa isyarat, mereka memiliki kesempatan yang lebih besar untuk belajar, tumbuh, dan berkontribusi bagi masyarakat. Nota kesepahaman ini adalah cerminan komitmen bersama untuk memastikan anak tuli mendapatkan peluang yang lebih setara untuk berkembang.” ujar Ichiro Kabasawa, Executive Director, The Nippon Foundation.
Pijar Foundation percaya bahwa pendidikan inklusif membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas tuli, organisasi masyarakat sipil, komunitas disabilitas, dan mitra pembangunan. Melalui kolaborasi ini, Program Pendidikan Bilingual untuk Tuli diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memperluas akses pendidikan yang lebih adil, bermakna, dan berkelanjutan bagi anak tuli di Indonesia.


