top of page

Melalui KRISAN Fellowship, Pijar Foundation Bawa 5 Pimpinan Perguruan Tinggi Indonesia Pelajari Layanan Disabilitas di Jepang

7 Sep
3 menit membaca

Diperbarui: 8 Sep

Para KRISAN Fellows melakukan learning visit untuk mempelajari pendidikan inklusif di Kyoto University, Jepang.
Para KRISAN Fellows melakukan learning visit untuk mempelajari pendidikan inklusif di Kyoto University, Jepang.

JEPANG — 7 September 2026 — Pendidikan tinggi inklusif mulai dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan sejak 2009 melalui regulasi dasar nasional, yang kini diakselerasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Peta Jalan Kampus Inklusif. Namun, dari kurang lebih 4.000 perguruan tinggi di seluruh Indonesia, baru 125 kampus yang saat ini telah membentuk unit layanan disabilitas. Rasio ini belum ideal, khususnya dengan jumlah mahasiswa disabilitas di Indonesia yang mencapai 3.128 mahasiswa.


Membangun pendidikan tinggi yang inklusif membutuhkan lebih dari sekadar membuka akses bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Perguruan tinggi perlu mempersiapkan sistem, kepemimpinan, layanan, dan mekanisme dukungan yang dapat merespons kebutuhan mahasiswa disabilitas yang beragam.


Sebagai langkah untuk memperkuat kapasitas institusi pendidikan tinggi di Indonesia, Pijar Foundation melalui KRISAN Fellowship memfasilitasi learning visit ke institusi di Jepang. Kegiatan ini merupakan rangkaian pembelajaran dan pertukaran pengetahuan antara 5 perwakilan perguruan tinggi Indonesia dengan universitas dan praktisi di Jepang.


Program ini juga didukung oleh Kemendiktisaintek dan Komisi Nasional Disabilitas lewat penandatanganan Nota Kesepahaman pada 1 Juli 2026. Setiap tahunnya Kemendiktisaintek melaksanakan program penguatan dan pengembangan ULD. KRISAN Fellowship menjadi program yang memperkuat langkah baik tersebut.


KRISAN Fellowship melibatkan perwakilan dari 27 perguruan tinggi di Indonesia, termasuk dari Aceh, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, hingga Papua Barat Daya. Sebelum mengikuti kunjungan pembelajaran ke Jepang, para peserta telah mengikuti Online Executive Workshop selama dua minggu yang terdiri dari 11 sesi pembelajaran bersama akademisi dan praktisi dari Indonesia dan Jepang. 


Lima perguruan tinggi yang akhirnya terpilih untuk mengikuti learning visit ke Jepang, yaitu Ar-Raniry State Islamic University, Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS), PGRI Argopuro University Jember, Kalla Institute of Business and Technology, dan Bina Mandiri University Gorontalo. Perguruan tinggi ini terpilih dari 27 PT Indonesia setelah melalui tahapan awal, workshop eksekutif secara daring dan penilaian dari representasi universitas di Jepang.


Selama learning visit, para KRISAN Fellows mengikuti kunjungan, diskusi, dan pertukaran pengetahuan bersama institusi di Jepang, termasuk Universitas Terbuka Jepang, Tsukuba University of Technology (NTUT) dan Kyoto University. Rangkaian kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk mempelajari berbagai pendekatan dalam membangun sistem dukungan bagi mahasiswa penyandang disabilitas serta mengembangkan lingkungan pendidikan tinggi yang lebih inklusif. 


Jepang dipilih karena pengalaman dan konteks kulturalnya dalam pendidikan inklusif memiliki kemiripan dengan Indonesia. Rangkaian kegiatan ini kami desain untuk menjadi ruang bagi perguruan tinggi Indonesia belajar, berjejaring, dan mengeksplorasi potensi penguatan layanan disabilitas di lingkungan masing-masing. Harapannya, model dan contoh baik di Jepang bisa meneguhkan mimpi kita bersama membangun pendidikan tinggi inklusi di Indonesia, ujar Anthony Marwan, Head of Public Policy Pijar Foundation.


Pendekatan tersebut menempatkan pembelajaran lintas negara sebagai proses untuk memahami berbagai kemungkinan dan mengidentifikasi praktik yang dapat disesuaikan dengan konteks lokal.


Dari Pembelajaran Menuju Perubahan Institusional

Sebelum mengikuti kunjungan ke Jepang, para fellows telah mengikuti Online Executive Workshop yang membahas berbagai aspek pendidikan tinggi inklusif. Materi pembelajaran mencakup pengembangan sistem DSU, praktik internasional, reasonable accommodation, prosedur asesmen dan konsultasi, Individual Support Plan, layanan dan perangkat pendukung, keterlibatan mahasiswa, peer support, serta kepemimpinan dan komitmen kelembagaan. Para peserta juga mengikuti Disability Equality Training sebagai bagian dari rangkaian fellowship. 


Melalui berbagai tahapan tersebut, KRISAN Fellowship mendorong perguruan tinggi untuk melihat inklusi bukan hanya sebagai tanggung jawab satu unit atau individu, tetapi sebagai bagian dari sistem dan komitmen institusional.


Selain mempelajari praktik yang diterapkan di Jepang, KRISAN Fellowship juga menjadi ruang bagi para peserta untuk membawa pengalaman dan perspektif dari perguruan tinggi Indonesia ke dalam diskusi.


Para fellows berasal dari berbagai wilayah dan institusi dengan konteks yang beragam. Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman tidak hanya antara Indonesia dan Jepang, tetapi juga antarpeserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.


“KRISAN Fellowship mengubah cara saya melihat layanan disabilitas di perguruan tinggi. Sebelumnya, saya berpikir bahwa inklusi terutama tentang apa yang perlu disediakan oleh universitas. Kini saya memahami bahwa yang paling penting adalah mendengarkan mahasiswa penyandang disabilitas. Dari sana, kita dapat membangun layanan yang benar-benar menjawab kebutuhan mereka. Dengan 189 mahasiswa penyandang disabilitas di universitas kami, saya menyadari bahwa penguatan layanan tidak dapat dilakukan sendiri. Kami membutuhkan kerja sama, jejaring, dan kesempatan untuk terus belajar dari pengalaman universitas lain, termasuk dari Jepang, lalu menyesuaikannya dengan konteks kami,” ujar Asrorul Mais, Wakil Rektor III Universitas PGRI Argopuro Jember. 


Pertukaran tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Alih-alih mencari satu definisi atau model tunggal mengenai kampus inklusif, peserta diajak untuk memahami bagaimana sistem dukungan dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan konteks masing-masing institusi.

 
 
New Logo Pijar_Light.png

Bergabunglah dalam misi kami menciptakan masa depan yang lebih cerah untuk Indonesia dan dunia. Tetap terhubung untuk pembaruan terbaru dan peluang untuk turut berkontribusi.

  • Instagram
  • LinkedIn
  • Youtube
NGOsource ED on File Image_edited.png
Insights
Circle Arrow_White.png

Kantor Jakarta 

Jl. Taman Rasuna Selatan, Menteng Atas, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Jakarta 12960

Circle Arrow_White.png

Kantor Yogyakarta

Jalan Gito Gati, Jalan Flamboyan No.21, Rejodani 1, Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta 55589

Email

©PIJAR FOUNDATION. SELURUH HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

TERM AND CONDITIONS

bottom of page