Indonesia Bangun Koalisi Lintas Sektor untuk Memperkuat Sistem Pangan di Panggung Global
Pijar Foundation bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia mempertemukan pemerintah, filantropi, dan investor di New York untuk memperkuat sistem pangan Indonesia.

NEW YORK, 23 September 2026 – Jutaan penduduk Indonesia masih mengalami kerawanan pangan sedang atau berat (BPS, 2025). Di saat yang sama, perubahan iklim semakin menambah tekanan terhadap sistem pangan melalui kenaikan suhu, pola curah hujan yang tidak menentu, dan cuaca ekstrem yang dapat mengganggu produksi, distribusi, serta ketahanan pangan dan gizi.
Tantangan ini menunjukkan bahwa memperkuat sistem pangan tidak hanya berarti meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan pangan yang cukup dan bergizi dapat diakses lebih banyak masyarakat, sekaligus memperkuat penghidupan petani, nelayan, dan komunitas yang menopang rantai pangan.
Di Indonesia, ambisi tersebut membutuhkan kerja bersama lintas sektor—menghubungkan kebijakan, inovasi, pembiayaan, pasar, dan keberlanjutan agar solusi yang menjanjikan dapat berkembang ke skala yang lebih luas.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia dan Pijar Foundation mulai membangun koalisi lintas sektor yang mempertemukan pemerintah, filantropi, investor, dan mitra pembangunan untuk memperkuat sistem pangan Indonesia agar lebih tangguh dan berkelanjutan. Upaya ini diperkuat melalui dialog di New York pada 23 September 2026, dengan dukungan Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York (PTRI New York), yang menghadirkan para pemimpin dari berbagai sektor untuk mendorong kolaborasi menuju skala yang lebih luas.
Dialog yang berlangsung di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-81 (UNGA 81) dan Climate Week NYC 2026 tersebut membahas bagaimana kebijakan, pembiayaan, pasar, dan kapasitas implementasi dapat bekerja lebih terkoordinasi untuk memperkuat sistem pangan Indonesia.
Kehadiran aktor dari pemerintah, filantropi, pembiayaan, dan investasi mencerminkan luasnya ekosistem yang dibutuhkan untuk mendorong transformasi sistem pangan. Diskusi tidak hanya membahas inovasi di tingkat produksi, tetapi juga bagaimana kebijakan, mekanisme pembiayaan, dan agenda keberlanjutan dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan solusi berkembang dalam skala yang lebih luas.
Dalam pidatonya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, menekankan pentingnya membangun kolaborasi lintas sektor yang lebih terbuka, cepat, dan terkoordinasi untuk memperkuat sistem pangan Indonesia.
“Kami ingin mengajak berbagai pihak seperti dunia usaha, investor, filantropi, dan mitra pembangunan untuk dapat bekerja dalam satu arah. Dengan koordinasi pangan, laut, hutan, dan darat yang semakin terintegrasi, kami ingin memastikan kerja sama lintas sektor dapat bergerak lebih cepat dan menghasilkan dampak yang lebih besar.”
Bagi Pijar Foundation, dialog ini turut menegaskan peran filantropi dalam menjembatani inovasi tahap awal dengan sistem yang diperlukan untuk membawa solusi menuju adopsi yang lebih luas. Executive Director Pijar Foundation, Cazadira Fediva Tamzil, menekankan bahwa langkah berikutnya adalah membantu memastikan solusi yang telah menunjukkan potensi dapat terhubung dengan sistem yang mampu menopang perkembangannya.
“Inovasi dapat menunjukkan kemungkinan baru, tetapi transformasi terjadi ketika sistem di sekitarnya memungkinkan gagasan tersebut untuk berkembang. Filantropi dapat membantu menghubungkan inovator dengan pemerintah, modal, riset, dan mitra lainnya, sekaligus membuka ruang untuk menguji, belajar, dan membangun bukti. Pada akhirnya, tujuannya bukan hanya mendukung lebih banyak proyek percontohan, tetapi membantu membangun kondisi agar solusi dapat menciptakan manfaat publik yang berkelanjutan.”
Tiga Arah yang Mengemuka dari Dialog
Dialog di New York tidak ditujukan untuk menghasilkan satu solusi tunggal bagi seluruh tantangan sistem pangan Indonesia. Sebaliknya, diskusi tersebut membantu memperjelas beberapa area yang membutuhkan kerja bersama lebih lanjut.
Pertama, membangun permintaan yang lebih kuat dan terkoordinasi terhadap pangan berkelanjutan dan bergizi.Perubahan di sisi produksi akan lebih sulit bertahan apabila tidak disertai pasar dan insentif yang mendorong praktik yang lebih baik.
Kedua, menyelaraskan kebijakan dan pembiayaan di sekitar pendekatan yang menjanjikan. Inovasi memiliki peluang lebih besar untuk berkembang ketika prioritas pemerintah, jalur regulasi, modal filantropi, investasi, dan pembiayaan dapat bergerak lebih selaras, bukan berjalan secara terpisah.
Ketiga, memperkuat platform yang dapat menjaga momentum dialog sekaligus mempertemukan sisi supply dan demand untuk mendorong aksi konkret. Hal ini membutuhkan institusi, kemitraan, bukti, serta mekanisme pelaksanaan yang memungkinkan sebuah pendekatan berkembang melampaui satu proyek atau satu lokasi.
Membawa percakapan ini ke New York di tengah UNGA dan Climate Week NYC menempatkan agenda transformasi sistem pangan Indonesia dalam percakapan global yang lebih luas—tentang ketahanan pangan, pembiayaan, pembangunan berkelanjutan, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Lebih dari sekadar forum, pertemuan ini menjadi langkah untuk membangun koalisi lintas sektor yang mampu menghubungkan kebijakan, modal, pasar, dan implementasi. Bagi Indonesia, tantangannya bukan lagi hanya menemukan solusi baru, tetapi memastikan solusi yang telah terbukti dapat tumbuh menjadi bagian dari sistem—dan dari sana, menciptakan dampak yang lebih luas bagi petani, nelayan, keluarga, dan masa depan pangan Indonesia.


