top of page

Belajar dari Fenomena El Niño: Ketahanan Pangan Nasional Dimulai dari Tanah yang Kita Pijak

5 jam yang lalu
3 menit membaca

El Niño adalah fenomena alam yang akan terus berulang setiap dua hingga tujuh tahun. Dari peristiwa besar pada 2015 dan 2023 hingga kondisi terkini yang sedang kita hadapi, setiap siklus memberikan pelajaran penting. El Niño menguji ketahanan pangan sekaligus memperlihatkan kerentanan pertanian dan ekosistem kita terhadap perubahan iklim, dari penurunan produksi komoditas utama hingga meningkatnya risiko kebakaran di hutan dan lahan gambut.


Setiap kali kekeringan menerjang, fokus kita kerap terjebak pada manajemen krisis jangka pendek: memastikan pasokan air, menjaga irigasi tetap mengalir, memberikan bantuan darurat untuk petani, dan meredam dampaknya di masyarakat. Langkah-langkah ini tentu krusial. Namun, sekadar "selamat" dari satu siklus kekeringan tidak otomatis membuat kita lebih tangguh menghadapi ancaman berikutnya.


Jika ada satu pelajaran penting dari berulangnya fenomena El Niño, itu adalah bahwa ketahanan pangan, terutama yang ditopang oleh sektor pertanian, tidak bisa dibangun secara mendadak ketika kemarau tiba. Ketahanan harus dibangun jauh sebelum krisis terjadi, dan fondasinya ada pada elemen yang sering kali kita abaikan: kesehatan tanah.


Puluhan tahun Indonesia berfokus memacu produktivitas pertanian demi memenuhi kebutuhan populasi yang terus bertumbuh. Strategi ini membuahkan kemajuan signifikan, namun intensifikasi yang berkepanjangan juga membuahkan konsekuensi serius: degradasi kesehatan tanah. Ketika kandungan bahan organik dan keanekaragaman hayati merosot, fungsi dasar tanah melemah dan membuatnya rapuh, begitu curah hujan berkurang.


Padahal, tanah yang sehat dapat menjadi infrastruktur alami yang menjadi modal penting bagi resiliensi pertanian. Lahan yang sehat dapat berfungsi sebagai penyimpan air berkapasitas tinggi, menjaga ketersediaan nutrisi, dan menopang produktivitas secara berkelanjutan. Di tengah ketidakpastian iklim global, kemampuan ekologis ini menjadi sebuah langkah strategis. Karena kesehatan tanah merupakan aspek penting penentu ketahanan lahan dari perubahan iklim ekstrem.  


Karena itulah, merespons guncangan El Niño memerlukan pendekatan berlapis: mitigasi risiko jangka pendek dan investasi resiliensi jangka panjang. 


Dalam jangka pendek, prioritas harus difokuskan pada mitigasi operasional: penyediaan data cuaca real-time, optimasi tata kelola air, distribusi varietas adaptif, serta penyediaan jaring pengaman finansial bagi petani terdampak. 


Namun, untuk jangka panjang, transformasi sistemik harus dimulai melalui investasi pada daya tahan lahan. Salah satu opsi yang menjanjikan adalah menerapkan pertanian regeneratif, yang berfokus pada pemulihan fungsi ekologis tanah sekaligus menjaga produktivitas dan keberlanjutan ekonomi pertanian. Pendekatan ini mencakup berbagai praktik, seperti meningkatkan kandungan bahan organik tanah, mendiversifikasi komoditas, dan mengelola air secara lebih efisien sesuai dengan tipologi masing-masing wilayah. 


Namun, membangun sistem pertanian yang lebih tangguh membutuhkan waktu dan biaya. Pemulihan struktur tanah dan perubahan praktik bertani tidak terjadi dalam satu musim. Pada masa transisi, petani dapat menghadapi penurunan output sementara, gangguan pendapatan, atau tambahan biaya operasional. Mengalihkan seluruh beban transisi ini kepada petani bukanlah kalkulasi kebijakan yang realistis. 

Karena itu, membangun resiliensi pertanian bukan hanya persoalan mengubah praktik di tingkat lahan, tetapi juga menciptakan ekosistem yang memungkinkan petani melakukan perubahan tersebut dengan risiko yang dapat dikelola. 


Pemerintah dapat berperan melalui infrastruktur air, penyuluhan, informasi iklim, pembiayaan, asuransi, dan kebijakan yang mengurangi risiko transisi. Dunia usaha dapat menciptakan permintaan yang lebih pasti sekaligus memberikan insentif bagi praktik yang meningkatkan ketahanan lahan. Lembaga keuangan dan filantropi dapat mengembangkan pembiayaan inovatif yang memperhitungkan masa inkubasi investasi ekologis. Peneliti, universitas, koperasi, dan organisasi pembangunan dapat memastikan bahwa pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. 


Dalam seluruh ekosistem ini, petani harus ditempatkan sebagai subjek utama, bukan sekadar objek kebijakan. Pertanian regeneratif tidak mengenal pendekatan tunggal. Praktik yang berhasil di satu wilayah belum tentu sesuai di wilayah lain. Petani membutuhkan ruang untuk menguji dan mengadaptasi praktik dengan dukungan sains dan pendampingan teknis yang memperkuat, bukan menggantikan, pengetahuan lokal yang telah mereka miliki. 


Inilah esensi adaptasi iklim: bukan sekadar berusaha menghindari setiap guncangan, melainkan membangun kapasitas resiliensi agar sistem pangan mampu menyerap dampak krisis, tetap produktif, dan pulih lebih cepat. 


Indonesia memang tidak dapat mengendalikan kedatangan El Niño, tetapi kita dapat menentukan seberapa tangguh kita menghadapinya. 


Artikel ini ditulis oleh: 

Maura Tri Hardini seorang Policy Specialist di Pijar Foundation dengan latar belakang di bidang politik, tata kelola, dan kebijakan publik. Sebelum bergabung dengan Pijar Foundation, ia pernah menjadi Policy Analyst pada Tim Penasihat Khusus Menteri

 
 
New Logo Pijar_Light.png

Bergabunglah dalam misi kami menciptakan masa depan yang lebih cerah untuk Indonesia dan dunia. Tetap terhubung untuk pembaruan terbaru dan peluang untuk turut berkontribusi.

  • Instagram
  • LinkedIn
  • Youtube
NGOsource ED on File Image_edited.png
Insights
Circle Arrow_White.png

Kantor Jakarta 

Jl. Taman Rasuna Selatan, Menteng Atas, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Jakarta 12960

Circle Arrow_White.png

Kantor Yogyakarta

Jalan Gito Gati, Jalan Flamboyan No.21, Rejodani 1, Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta 55589

Email

©PIJAR FOUNDATION. SELURUH HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

TERM AND CONDITIONS

bottom of page