Laporan Terbaru Ungkap Peluang Beras Berkelanjutan Masuk Pasar Ritel Indonesia Tanpa Biaya Tambahan bagi Konsumen

Transisi menuju pertanian berkelanjutan tidak seharusnya menjadi beban petani. Laporan ini menunjukkan potensi peningkatan surplus bersih petani sebesar 31% tanpa biaya tambahan bagi konsumen, melalui pengembangan bertahap dari uji coba 100 hektare menuju 10.000 hektare, dengan dukungan kepastian pasar dan pembiayaan.
JAKARTA, 16 Oktober 2026 – Indonesia memiliki peluang untuk memperluas pemasaran beras rendah emisi ke pasar ritel umum dengan tetap mengikuti ketentuan harga yang berlaku. Hal ini diungkapkan dalam laporan yang diterbitkan oleh Philanthropy Asia Alliance (PAA) dan Pijar Foundation bekerja sama dengan World Economic Forum.Perbaikan kualitas gabah dan proses penggilingan memungkinkan produksi beras berkelanjutan dengan lebih baik, sesuai standar kualitas dan ketentuan HET beras premium yang berlaku. Dengan demikian, pendapatan petani berpotensi meningkat, sementara penggunaan air dan emisi metana dapat dikurangi, tanpa mengharuskan konsumen membayar biaya tambahan untuk aspek keberlanjutan.
Beras merupakan makanan pokok bagi lebih dari 250 juta penduduk Indonesia, sementara swasembada pangan menjadi salah satu prioritas utama pemerintah. Di sisi lain, budidaya padi menyumbang sekitar 34% dari total emisi gas rumah kaca sektor pertanian di Indonesia. Hal ini menempatkan sektor perberasan pada titik temu antara upaya menjaga ketahanan pangan nasional dan pencapaian target iklim, termasuk target Low Carbon Development Initiative untuk menerapkan praktik rendah karbon pada sekitar satu juta hektare lahan pada 2030. Mengingat hanya sekitar 10% beras dunia yang diperdagangkan secara internasional, produksi dan kebijakan dalam negeri menjadi faktor utama yang menentukan arah dan kecepatan transisi tersebut.
Mewujudkan Beras Berkelanjutan yang Menguntungkan Petani dan Pembeli
Laporan Scaling Sustainable Rice Systems in Southeast Asia: Insights from a Feasibility Study in Indonesia ini mengacu pada studi yang dilakukan oleh Pijar Foundation pada 2026 mengenai aspek ekonomi di tingkat petani serta sistem pasar yang lebih luas. Kajian ini juga didasarkan pada hasil uji coba agronomi di Grobogan, Jawa Tengah, yang dilakukan oleh Temasek Life Sciences Laboratory dengan dukungan PAA. Uji coba tersebut menunjukkan bahwa metode alternate wetting and drying (AWD) sesuai untuk diterapkan pada lahan sawah di Indonesia. Metode ini memungkinkan sawah mengering hingga batas aman sebelum kembali diairi. Dalam kondisi setempat, penerapan AWD mampu mempertahankan hasil panen sekaligus mengurangi penggunaan air irigasi hingga 30% dan emisi metana hingga 35%.
Berdasarkan skenario pemodelan, surplus bersih petani berpotensi meningkat sekitar 31%. Peningkatan ini didorong oleh harga jual gabah di tingkat petani yang lebih tinggi, kenaikan hasil panen sekitar 6%, serta penurunan total biaya produksi. Pihak pembeli hasil panen (offtaker), termasuk penggilingan dan pembeli grosir, juga berpotensi memperoleh keuntungan karena nilai yang diperoleh dari kategori beras premium lebih besar daripada tambahan harga yang dibayarkan kepada petani. Hal ini diperkirakan dapat meningkatkan margin kotor pengolahan hingga 45%. Untuk menguji asumsi-asumsi tersebut dalam kondisi operasional nyata, laporan ini mengusulkan implementasi awal (Entry Cohort) pada lahan seluas 100 hektare selama empat musim tanam.
“Petani kecil tidak seharusnya menanggung biaya transisi menuju ekonomi hijau. Perubahan cara menanam padi harus mampu mengurangi emisi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi petani. Temuan kami menunjukkan bahwa melalui kolaborasi yang efektif, produksi beras rendah emisi dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mengurangi penggunaan air dan emisi. Inilah transisi yang kita butuhkan, ketika keberlanjutan menjadi sebuah peluang,” ujar Cazadira Fediva Tamzil, Direktur Eksekutif Pijar Foundation.
Memperkuat Permintaan Pasar dan Pembiayaan untuk Memperluas Produksi Beras Berkelanjutan
Laporan ini menekankan bahwa komitmen pembelian menjadi salah satu syarat utama untuk memperluas penerapan beras berkelanjutan. Adanya kepastian permintaan sebelum petani mengubah praktik budidaya dapat meningkatkan keyakinan mereka untuk mengadopsi metode baru. Mengacu pada panduan CEO dari First Movers Coalition for Food, laporan ini menguraikan dua pendekatan yang dapat dilakukan pembeli. Pertama, memasukkan persyaratan beras berkelanjutan ke dalam spesifikasi pengadaan. Kedua, mendanai program di wilayah pemasok (supply-shed) dengan tetap memberikan kebebasan kepada petani untuk menjual hasil panennya di pasar terbuka.
“Petani akan mengubah cara mereka menanam padi ketika mereka tahu sudah ada pembeli yang siap membeli hasil panennya,” ujar Claire Oei, Climate & Nature Lead di PAA. “Kepastian permintaan yang dapat dipercaya memberikan keyakinan bagi petani sekaligus menjadi alasan bagi lembaga pemberi pinjaman untuk menyediakan modal kerja. Bagi lembaga filantropi, tantangannya adalah mengidentifikasi bagian-bagian dalam rantai nilai di mana pendanaan awal dapat memberikan dampak terbesar untuk membawa beras rendah emisi ke rak-rak supermarket. Di Indonesia, temuan yang ada menunjukkan bahwa dukungan tersebut diperlukan di tingkat petani, melalui skema perlindungan risiko kerugian tahap pertama (first-loss cover) untuk menanggung dampak gagal panen yang serius selama petani mengadopsi metode baru, serta melalui pelatihan yang memastikan metode tersebut terus diterapkan setelah masa uji coba berakhir.”
Skema pembiayaan dirancang untuk berkembang seiring bertambahnya bukti keberhasilan di lapangan. Jika penerapan pada lahan seluas 10.000 hektare berhasil, model ini berpotensi mendorong keterlibatan yang lebih besar dari lembaga pembiayaan pembangunan dan pemberi pinjaman multilateral. Seiring waktu, pembiayaan komersial juga diharapkan dapat mengambil peran lebih besar apabila model tersebut terus menunjukkan kelayakan ekonomi.
Jika diterapkan sepenuhnya, model pada lahan seluas 10.000 hektare diperkirakan dapat menjangkau sekitar 40.000 petani kecil serta menghasilkan surplus bersih petani sekitar US$40,5 juta dan margin kotor pengolahan sebesar US$15 juta setiap tahun. Dari sisi lingkungan, pemodelan ini memperkirakan potensi pengurangan emisi sebesar 40.000–60.000 ton setara CO₂ (tCO₂e) serta penghematan air irigasi sebanyak 50–90 juta meter kubik. Manfaat yang dihasilkan pun tidak hanya terbatas pada lahan persawahan.
Laporan ini merupakan bagian dari kemitraan PAA dengan First Movers Coalition for Food dalam rangkaian inisiatif di Asia Tenggara yang melibatkan lebih dari 60 organisasi dari sektor industri, keuangan, pemerintah, kelompok petani, dan lembaga penelitian. Sebagai mitra utama regional untuk komoditas beras, PAA menghubungkan bukti ilmiah dan sumber pendanaan yang tersedia dengan permintaan sektor swasta yang dibutuhkan untuk memperluas penerapan model ini. Pengujian lebih lanjut terhadap temuan laporan diharapkan dapat membantu memvalidasi model sekaligus mendorong keterlibatan para pemangku kepentingan dalam pengembangan model transisi beras yang dapat diterapkan dalam skala lebih luas.
“Dari sisi ekonomi, manfaatnya jelas: membangun rantai nilai beras yang tangguh dan berkelanjutan dapat meningkatkan kesejahteraan petani kecil sekaligus menjaga kepastian pasokan,” ujar Noopur Desai, Senior Manager, Food Initiatives di World Economic Forum. “Penerapan dalam skala yang lebih luas akan didorong oleh kerja sama sektor publik dan swasta, komitmen pembelian yang didasarkan pada permintaan pasar, serta solusi pembiayaan yang inovatif.”
Unduh laporan lengkap di sini. Bagi organisasi yang tertarik untuk menjajaki kolaborasi, hubungi First Movers Coalition for Food melalui email [email protected]
Tentang Philanthropy Asia Alliance (PAA)
Philanthropy Asia Alliance (PAA) merupakan inisiatif Temasek Trust yang bertujuan mendorong kolaborasi filantropi di Asia melalui kemitraan lintas sektor yang dinamis. Dengan menggabungkan kekuatan berbagai pihak, PAA berupaya memperluas dampak, mempercepat perubahan positif, serta mendorong aksi nyata untuk mengatasi tantangan lingkungan dan sosial yang mendesak. Program unggulan PAA adalah Philanthropy Asia Summit yang diselenggarakan setiap tahun. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi http://philanthropyasiaalliance.org.
Tentang Pijar Foundation
Pijar Foundation merupakan yayasan filantropi dan ekosistem kolaborasi yang lahir di Indonesia, dengan jangkauan yang terus berkembang di Asia Tenggara. Pijar mendorong perubahan sistemik pada isu-isu strategis yang membentuk masa depan talenta dan lingkungan.
Melalui tiga pilar utama, yaitu Pengembangan Kepemimpinan dan Kapasitas, Inovasi dan Kewirausahaan, serta Advokasi Kebijakan dan Filantropi, Pijar mempertemukan pemerintah, dunia usaha, lembaga filantropi, akademisi, dan komunitas untuk memperkuat kapasitas lokal, memperluas penerapan solusi yang telah terbukti, serta mendorong kebijakan, kemitraan, dan kelembagaan yang mendukung perubahan sistemik jangka panjang.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi http://pijarfoundation.org.
Tentang First Movers Coalition for Food
First Movers Coalition for Food merupakan inisiatif unggulan World Economic Forum yang menghimpun lebih dari 60 mitra untuk mendorong komitmen permintaan pasar yang kredibel serta membangun kepercayaan pasar terhadap komoditas pertanian yang regeneratif, berkelanjutan, dan tangguh dalam skala besar.
Kontak Media
Philanthropy Asia Alliance, Nicole Tan, [email protected]
Pijar Foundation, Hilda Halida, [email protected]


