IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI: Komunikasi Strategis Berbasis Kemanusiaan
- Hilda Halida
- 15 Nov 2025
- 5 menit membaca
Diperbarui: 10 Des 2025

Jakarta, 8 Desember 2025 - Di tengah percepatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), International Association of Business Communicators (IABC) Indonesia, menyoroti masa depan kepercayaan publik di era AI yang semakin rentan dengan deepfakes. Pada acara IABC Indonesia Conference and Awards, fokus diskusi menitikberatkan pada komunikasi strategis berbasis kepercayaan, kemanusiaan, dan dampak digital.

Elvera N. Makki, President IABC Indonesia dan Founder & CEO VMCS Communications and Social ImpactĀ menegaskan bahwa kepercayaan publik kini merupakan mata uang utama kepemimpinan modern, āDalam ekosistem digital, teknologi dapat mempercepat pesan, tetapi hanya kemanusiaan yang dapat memperdalam makna. Di era AI, komunikasi strategis tidak cukup hanya akurat, namun harus empatik, etis, dan berpihak pada hak asasi manusia.ā

Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Riset (Dikti Saintek) RI menyampaikan keynote speechĀ tentang pentingnya membangun pemikir digital yang berpusat pada manusia, āHoaks merupakan ancaman yang sangat besar dan salah satu yang paling serius di Indonesia. Lebih dari 1.100 pakar dari 136 negara menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu ancaman paling serius saat ini. AI mempermudah pembuatan berita hoaks, dan dalam satu tahun terakhir, penyebaran informasi palsu dengan teknologi AI meningkat hingga 2x lipat dalam satu tahun terakhir,ā ungkap Prof. Stella. Terdapat empat alasan mengapa percaya hoaks, yang dijabarkan satu-persatu oleh beliau dalam forum ini, yaitu dilihat dari sisi political partisanship, cognitive reflection, prior knowledge, danĀ heuristic.
āFast-checkingĀ adalah tindakan yang selama ini kita lakukan untuk mengentaskan hoaks. Namun terdapat solusi perilaku yang patut dilakukan, yaitu solusi proaktif āprebunkingā, accuracy nudge, solusi sistemik wisdom of crowd , dan solusi jangka panjang, yaitu edukasi,ā papar Prof. Stella.

Dr. Ir. Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, yang juga hadir menyampaikan keynote speechĀ menekankan tantangan terbesar komunikasi saat ini adalah framingĀ di ruang digital, āFramingĀ yang dilakukan secara cepat untuk kepentingan engagementĀ di media sosial tanpa verifikasi, mengorbankan banyak pihak, tak hanya politisi dan pejabat publik, namun juga dunia usaha, bahkan hingga UMKM.ā Karena itu, ujarnya, kita harus waspada dan sangat berhati-hati dalam merespons dinamika ini.

Berbicara mengenai humanityĀ atau kemanusiaan, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D, Wakil Menteri Kesehatan, RI yang turut hadirĀ sebagai keynote speakerĀ menyatakan, āKomunikasi tidak hanya membutuhkan penyajian data yang akurat, namun dibutuhkan empati dan kisah nyata dari berbagai sumber lapisan masyarakat, terutama bagi yang sedang berjuang di pelosok terpencil Indonesia. Kemampuan mengubah statistik menjadi cerita dan empati, itulah hal yang paling esensial untuk diperankan sektor komunikasi publik, terutama komunikasi digital.ā
Sementara itu Bank Mandiri melihat penguatan inovasi digital sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas dan mendorong akselerasi ekonomi nasional, "Membangun kepercayaan di era digital dimulai dengan menempatkan kemanusiaan sebagai inti dari setiap inovasi. Dengan mengadopsi prinsip-prinsip ESG dalam praktik bisnis kami, Bank Mandiri terus berkembang dalam menciptakan dampak digital yang memberdayakan masyarakat, memperkuat komunitas, dan menjaga keberlanjutan masa depan bersama," ujar Senior Vice President Environmental, Social & Governance Bank Mandiri Monica Yoanita Octavia.

Abdullah Fahmi, VP Corporate Communication & Social Responsibility, Telkomsel Indonesia, menekankanĀ āTransformasi digital tidak cukup hanya dengan jaringan yang kuat. Kita memerlukan komunikasi yang bertanggung jawab untuk memastikan setiap langkah menuju keberlanjutan dimengerti, diterima, dan dijaga. Sebagai komunikator, kita membangun kepercayaan yang memungkinkan teknologi memberi dampak positif nyata bagi seluruh bangsa.ā

Sementara Danone Indonesia berhasil mendefinisikan ulang dampak komunikasi terhadap keberlanjutan bisnis, āRahasia formula komunikasi yang berdampak adalah empati, baik saat melindungi maupun promosi. Di Danone Indonesia, kami berbicara dengan bahasa audiens yang kami tuju, memastikan pemahaman yang membentuk persepsi publik yang positif, dan pada akhirnya, komunikasi yang memperkuat keberlanjutan bisnis,ā ujar Arif Mujahidin, Corporate Communication, Danone Indonesia.

Elvera menutup, āTren komunikasi untuk tahun 2026 adalah menguatkan kepercayaan dengan transparansi, integritas, dan keberanian mengakui keterbatasan. Humanity adalah kompasnya. AI mungkin mempercepat dunia, tetapi hanya humanityĀ yang dapat menstabilkannya. Ke depan, komunikator Indonesia perlu berdiri di garis depan yang menghubungkan data dengan empati, teknologi dengan etika, dan inovasi dengan tanggung jawab sosial.ā


